Selasa, 04 November 2014

Blood [Chapter 1]

Cast : 
*Oh Sehun
*Lu Han
*Byun Baekhyun
*Park Chanyeol
*Kim Jongin
*Do Kyungsoo
*Kim Minseok
Genre : Horror, Fantasy, Mystery
Rating : T+ - M.
Sore itu terjadi peristiwa aneh di rumah kakek Jang. Cucunya tewas tak wajar. Sementara itu, Kakek Jang yang dikenal masih sangat aktif dalam kegiatan sekitar kampung menjadi seorang yang misterius.
                Pernah suatu ketika terjadi pembantaian anak-anak kecil yang biasa bermain di pekarangan rumah kakek Jang. Biasanya, Kakek Jang menyuruh mereka bermain di pekarangan rumahnya. Sekarang…, entahlah, sudah jarang orang yang melewati rumah kakek Jang setelah insiden tewasnya cucu kakek Jang. Jadi, untuk tragedi pembantaian, tak ada yang menjadi saksi. Hanya ada beberapa orangtua dari anak yang cemas karena sampai hari gelap, anak mereka belum kembali. Beberapa orang melihat mayat anak-anak beserta beberapa sepeda kecil terciprat darah yang mulai mengering.
                Belum ada orang yang berani menanyakan hal itu kepada kakek Jang. Akhir-akhir ini ia sudah jarang terlihat diluar rumah. Banyak orang meyakini kakek Jang tewas bunuh diri setelah puas membunuh anak-anak dengan tidak wajar.    
                Misalnya seperti kasus meninggalnya cucu kakek Jang yang mayatnya ditemukan tak jauh dari kasur dikamarnya. Ia ditemukan tergeletak tak bernyawa tanpa kepala. Namun anehnya, tak ada bekas darah disekitarnya. Mulai dari saat itu kakek Jang berubah.
                Tak ingin kejadian ini terulang kembali, warga sekitar mulai mendatangi kakek Jang. Namun yang ada, warga jijik dengan keadaan rumah kakek Jang yang tak lazim. Dinding rumah kakek Jang penuh dengan gantungan kepala anak-anak yang menjadi korban pembantaian. Tanpa bola mata dan mulut yang terbuka lebar. Menyeramkan. Ada beberapa orang tua korban pembantaian disana dan beberapa diantaranya kaget dan marah. Mereka tak menyerah dan terus melangkah masuk ke rumah kakek Jang. Mereka kaget, kakek Jang tewas gantung diri di dapur! Lidahnya keluar dengan beberapa liur yang tercampur dengan darah sesekali menetes, Jadi kakek Jang bunuh diri belum lama ini, pikir mereka.
                Tak lama rumah kakek Jang dijual dan dijadikan sebuah penginapan. Semoga tak terjadi apa-apa pikir warga sekitar. Penginapan itu tak terlalu ramai. Hanya sesekali ada yang menginap dan biasanya mereka hanya tahan tiga hari disana.
                Suatu hari, enam murid dari salah satu sekolah ternama di Korea mengunjungi desa tersebut untuk melakukan sedikit tugas obsevasi yang diberikan guru mereka. Mereka menginap di ‘bekas rumah kakek Jang’ karena mereka pikir tempatnya nyaman dan tak terlalu jauh dari terpat observasi.
                Enam murid tadi bernama Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, dan si ketua, Kim Minseok. Mereka mendatangi penginapan itu sore hari, saat observasi hari pertama selesai. Saat itu jam lima, Kyungsoo meminta Jongin menemaninya berkeliling desa. Tersisa empat orang di rumah penginapan itu.
“Hyung, kupikir tempat ini agak…misterius?” Sehun bersuara dengan nada ragu dan ditanggapi anggukan oleh Chanyeol dan Baekhyun, “Ya, Sehun benar. Apa kau tak merasakan aura tak mengenakan di sekitar penginapan ini?” Chanyeol bertanya.
“Kalian bersikaplah sopan ditempat ini. Berpikiran yang positif saja dan kuyakin ‘mereka’ tak akan mengganggu kita.” Minseok berujar santai.
“Siapa yang kau maksud ‘mereka’?” Baekhyun bertanya. Nadanya sedikit menantang, namun seperti ada ketakutan yang disembunyikan. “Tak kujelaskan juga kau pasti akan mengerti.”
--
“Sejuk sekali!”
                Kyungsoo merentangkan tangannya, memejamkan matanya, dan tertawa bahagia. “Hyung, pulang?” ucap Jongin tiba-tiba. “Apa maksudmu ‘pulang’, Jongin-ah?” Kyungsoo menggaruk pipinya. “Entahlah. Aku seperti...ingin pulang. Aku tak dapat mendefinisikan apa arti ‘pulang’ yang kumaksud, aku ‘pun bingung.”
“Ya sudah, ayo kembali ke penginapan!”
--
                Kyungsoo dan Jongin sudah kembali ke penginapan. Sekitar jam tujuh pada saat mereka berdua kembali. Minseok telah menyiapkan makan malam untuk mereka berenam. Sehun sedang memainkan ponselnya dan Baekhyun menyiapkan piring dan perlengkapan lainnya dibantu Chanyeol.
                Sehun kelihatannya terkejut –seperti mendapan kejutan, tetapi kejutan yang aneh dan tidak diinginkan. Seseorang menelponnya, dari suster Jung (perawat rumah sakit Seoul). Yang membuat Sehun terkejut setengah mati adalah…
Suster Jung sudah meninggal dua tahun silam.
“Siapa?” Minseok bertanya.
“S-ssu-suster…Soo..yeon.” Sehun tergagap. Ia tahu benar siapa suster Jung –Sooyeon– itu. Ia sudah menganggap wanita cantik itu sebagai kakaknya sendiri. Ia ingat perkataan terakhir Sooyeon padanya, Aku akan selalu melindungimu disaat terjadi bahaya padamu. Apakah artinya ia akan mendapat bahaya?
Tetapi ini juga berbahaya mengingat suster Jung sudah meninggal.
“Jangan bercanda, Sehun!” Kyungsoo berteriak.
“Kau pikir aku bercanda, hyung? Baiklah akan kuangkat.”
                Sehun menekan tombol hijau di ponselnya, lalu menekan tombol speaker kalau-kalau ada yang tidak percaya dengan percakapan diantara keduanya. Apalagi Kyungsoo yang kelihatannya kaget mendengar penelpon tersebut.
“Ha-halo?” – Kyungsoo
“…”
“S-suster…Jung?” – Sehun
“…”
“Siapa ini?” – Minseok
“…”
“JAWAB!” – Chanyeol dan Baekhyun berteriak kencang.
Sehun-ah, Kyungsoo-ya..
                Sementara ini keadaan hening. Tak ada yang menjawab. Mereka terlalu fokus pada pikiran masing-masing. Sedangkan Sehun dan Kyungsoo membulatkan matanya. Tentu saja mereka kaget.
Pulanglah kalian..
“Kau siapa?” Minseok  bertanya.
aku…
Semua terdiam.

…Jung Sooyeon.

TBC
Haha, sengaja aku pendek-pendek mau dibuat oneshot tapi ga nahan buat di post padahal belum selesai. Jadinya aku putuskan untuk dibuat chapter. Mohon maaf kalau ada typo bertebaran yang mengganggu. Rating disini mungkin jadi M (Mature). Tapi jangan harap ada konten yang berhubungan dengan sex. FF ini emang NC tapi dalam artian berisi konten gore, pembunuhan, darah, dsb.
Btw, aku sebel disaat aku buka fanfiction.net ga bisa dibuka, dan justru UU ITE gitu-gitu yang keluar. Apa emang ga diizinkan beroprasi/? di Indonesia? jangan!
Hehe...
Monggo di komen apa-apa aja yang kurang dari FF ku satu ini :3
Tapi plis jangan di bbm ya :v
Baiklah kalau begitu, sekian cuap-cuap saya kali ini :3 kalo mau kontak-kontakan/? lewat facebook aja ya, Insya Allah akan aku jawab.
buka aja Carina Salma asal jangan diapa-apain aja. :v
ok, bye, see ya, EVERYDAY GIRL'S DAY! /?

Senin, 27 Oktober 2014

Kereta, Senior, Karnaval

Kereta, Senior, Karnaval.
*Cast : 
 - Kim Jong In
 - Oh Se Hun
 *Genre :
 [aku ga bisa tentuin, ff ini gaje banget] tapi mungkin Romance, Fluff.




                Sehun tak habis pikir bisa sejalur dengan senior favoritnya, Jongin. Matanya tertuju pada pria tan itu sejak ia melihat Jongin kembali dari gerbong sebelah –ke toilet, mungkin. Bibir tebalnya, kulit tan-nya, rambut pirangnya yang berantakan –oh Jongin seksi sekali.

Jangan sampai Sehun mimisan.

                Sepertinya memang Jongin agak tidak peka karena baru menyadari tatapan seseorang yang diperuntukan diinya. Sampai akhirnya Jongin sadar bahwa si pelakunya adalah Sehun, juniornya. Sehun memalingkan wajahnya ke bawah –menatap sepatu putih miliknya. Uh, sungguh menyebalkan saat ia harus menunjukan wajah menggemaskannya membuat Jongin gerah.

Jongin harus segera menembak Sehun!

                Segeralah Jongin beranjak dari tempat duduk aslinya dan berjalan mendekati Sehun. Sehun sendiri kaget akan kehadiran seseorang didepannya yang –hey, ia mengenal sepatu ini!. Sepatu merk League berwarna merah. Ini sepatu Jongin!

“Sun…bae?” Sehun tercekat. Wajah pucatnya semakin pucat (mungkin jika Sehun berbaring di dalam peti mati, orang mengira dirinya mayat). Ia lihat Jongin menyeringai.

“Hai, Sehun.”

“Hai…sun…bae.”
“Boleh aku duduk disampingmu?”
“Uhm.”

Hening.

                Jongin menahan tawa sedari tadi. Oh, lihatlah betapa polosnya bocah disampingnya? Pipinya merona begitu,manis sekali. Sebagian hatinya berkata bahwa Jongin harus mencium pipi pemuda usia enam belas di sampingnya. Namun ia harus menahan diri. Yang ada ia mempermalukan diri sendiri. Ayolah, ini tempat umum. Tak seharusnya ia melakukan hal diluar batas –mengingat tak ada hubungan lebih diantara keduanya. Walau anak berandal begini, Jongin masih memiliki sopan santun. Setidaknya begitulah jika ditempat umum.

“Apa jadwalmu setelah ini?” Jongin bertanya –berbasa basi sebentar pikirnya. Jongin rasa itu akan menjadi momen menarik.

“Pulang, dan mengerjakan tugas.” Ucap Sehun datar dan singkat. Sedatar wajahnya. Ok, Jongin tahu itu trik khusus a la Sehun untuk menutupi malunya. Sok tahu sih, tapi siapa tahu benar, ‘kan?

“Mau berjalan-jalan denganku? Kupikir ini menarik. Besok, besok, dan besoknya lagi libur, bukan? Mungkin aku juga dapat membantumu mengerjakan tugasmu. Aku tidak akan keberatan, sungguh. Aku akan datang kapanpun kau mau.” Jongin bicara itu dengan suara tidak jelas –seperti menahan sesuatu. Ia sudah tak dapat menahan tawanya. Lihatlah pipi Sehun, semakin merona!

“Jika aku tidak mau, bagaimana?”

Uh dingin sekali bocah ini, tapi kenapa pipinya –tidak, wajahnya memerah seperti itu?

“Kupaksa.”

“Oh, Tuhan. Apa salahku?”

                Dengan ‘sedikit’ paksaan, Sehun dengan terpaksa (ia tak ingin menanggung malu apabila pipinya merona akibat jatuh cinta) meng‘iya’kan ajakan Jongin.

“Kau mau apa, Sehunnie?”

Apa?

Jongin…

Apa yang ia katakan?

Ya, barusan! Apa yang ia katakan?

SEHUNNIE?

Ya Tuhan, Sehun mau pingsan saja agar dibawa pulang kerumah. Nanti ‘kan ada bibi Song dan Luhan –koki dan kakak Sehun– yang menjaga dan merawatnya. Dan ia bisa segera mengatur detak jantungnya agar kembali normal.

Namun pemikiran keduanya sangat berbanding terbalik. Mungkin saja saat ia pingsan nanti ia malah dibawa ke rumah Jongin, kekamarnya, lalu berbuat hal tak senonoh. Atau membawa ke rumah sakit? Tidak, jangan. Sehun trauma dengan rumah sakit.

Terasa ambigu.

“Apa yang kau pikirkan, heum?”

“Ti..dak.”

                Dan akhirnya sampailah mereka di tempat yang sangat ramai pengunjung dengan aneka dagangan dan permainan yang disuguhkan di dalam tempat itu. Karnaval. Jongin mengajak Sehun ke karnaval dan Sehun menganga. Ya Tuhan sudah hampir sembilan tahun aku tidak datang ke karnaval dan aku merindukannya! Terima kasih Jongin sunbae, Tuhan memberkatimu!

“Oh, aku tahu yang kau pikirkan. Tak usah berterima kasih, Sehunnie..” Ujar Jongin tanpa beban apapun. Tak tahukah Jongin kalau Sehun sedang tersipu malu sehingga pipinya merah? Oh memalukan, sungguh. Jika kakaknya tahu, Sehun sudah ditertawai.

Sehun yakin.

                Jongin menggapai tangan Sehun dan menggandengnya. Erat tetapi nyaman dan hangat. Sehun menyukainya. Sehun menyukai hal-hal yang Jongin lakukan (sejak bertemu di gerbong kereta tadi).

“A-ah, sun…bae?”

“Ada apa?”

“Tidak.”

Uh, tubuh Sehun memanas, berkeringat, dan pipinya lebih merona dibanding tadi.

“Mau bermain apa?”

“Uhm, aku bingung, sunbae. Aku ingin membeli beberapa cemilan saja. Kau mau apa, sunbae?”

“Kembang gula?”

“Um, boleh.”

                Ingin sekali Sehun meledak. Sungguh. Ia merasa jantungnya tak dapat terkontrol. Jantungnya berdetak sangat kencang. Sial. Ia sangat berharap bahwa ia memiliki hubungan lebih dengan Jongin. Setidaknya tidak ada perasaan cemas lagi.

Cemas dengan Jongin kalau ternyata ia memiliki kekasih.

“Ehm.., Sehun?”

“Ya, sunbae?”

“Dengarkan aku. Dengan banyak orang menjadi saksi disini. Aku…, MAUKAH KAU MENJADI KEKASIHKU?”

Dan semua orang bertepuk tangan.

Jongin…apakah dia sudah merencanakannya?

“Aku tahu ini tidak romantis dan memalukan. Tapi kuharap kau menerimaku.”

                Sehun mengangguk mantap. Tak ada beban didalamnya. Ia bahagia. Akhirnya ia dapat mengetahui apa isi hati Jongin. Ia terharu. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap air matanya.

“Mau, sunbae…, aku menerimanya.”

                Jongin mendekati Sehun. Menghapus jarak diantara mereka. Jongin mengusap pipi Sehun lembut. Lalu mencium mata sembab Sehun dan berbisik, “Jangan lagi panggil aku sunbae, sayang.” Dan Sehun mengangguk pelan. Jongin mencium pipi Sehun –meskipun hanya sekilas, tapi itu bisa membuat tubuh Sehun melemas. Sehun memeluk Jongin dan mengatakan, “Baiklah, Jongin. Aku tak akan memanggilmu sunbae lagi. Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu dan menyayangimu.”

                Pelukan Sehun dipinggang Jongin makin erat. Ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jongin dalam-dalam. Pipinya merona hebat. Tak menyangka bahwa akan terjadi hal ini. “Mulai hari ini, kau miliku, dan aku milikmu.” Ucap Jongin berbisik, tepat ditelinga Sehun membuat Sehun merasakan rasa geli (yang menyenangkan) di area telinganya.

“Uhm, terima kasih Jongin. Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat mencintaimu!”

Dan hari itu, di sore itu, di tengah karnaval, mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

END

WAAAH!!

Masih ga dapet feelnya, kukira gitu.

Aku ga nges/? Sama sekali baca ini. Ini bukan kurang dapet, tapi..

SAMA SEKALI GA DAPET FEELNYA!

Dan ini bener-bener ga cocok dijadiin ‘FF ROMANCE’ karena emang ga romantis sama sekali. Huh, apalagi sweet, gak banget ;;-;;

Sabtu, 21 Juni 2014

Goodbye

Author : Carin
Cast : Park Chan Yeol, Byun Baek Hyun, Kim Tae Yeon
Pair : ChanBaek, BaekYeon
Genre : Hurt
Length/? : drabble ._.

HAI HAI HAI ._. gua macam hiatus panjang ya kaga ngurus ini blog sepi/? ekhm gimana kabar kalian mengetahui BaekYeon dating? ya macem-macem kan? ada yang sedih, kecewa (nah ini hampir semuanya), tegar, depresi, marah, setuju, dukung, seneng ._.
dan mungkin gua tuh yang kecewa ya, tapi ya bagaimana lagi ._. kita fans ga bisa berbuat apa-apa (masalahnya ga ada hak kita atur mereka) ya sudah terima saja. toh, biarkanlah mereka bahagia.
Duh jadi curcol ya ._. ini fanfic spontan otak gua dapet ide tadi perjalanan jemput mama gua dari stasiun ._. jam berapa ye, jam 12-an kok ._. di jalan gua ketiduran tuh setengah jam, dan akhirnya gua mimpi ini/? jadi deh ini fanfic absurd. Ini gua bikin juga apa adanya. di mobil, keadaan ngantuk, gelap, bosen nungguin mama kaga dateng2.dan tadaaa ini hasil karya gua selama 15 menitan .-. curcol lagi kan ._. oke, jangan bashing, silahkan beri kritik dan saran juga komentarmu yang membangun, dan kalau ga suka pair atau castnya silahkan pergi dari blog gua /ngacir(?)/
yok CHENKAID.O~



Musim panas sudah berakhir dua pekan lalu. Tak terasa kini hidup Chanyeol makin dilanda kesuraman. Ia tak dapat berhenti dari kebiasaan barunya saat ini. Merokok, meminum minuman keras, mabuk dan mengerang nama Baekhyun, dan sudah tak peduli akan masa depannya. Sulit dirasa untuk bisa melepas Baekhyun dari pelukannya dan membiarkan Baekhyun menjadi kekasih seorang queenka di sekolahnya, Kim Taeyeon. Ia seharusnya tahu, Baekhyun tidak akan peduli akan keadaannya sekarang. Ia sudah memiliki pujaan hati dan dengan senang hati meninggalkan Chanyeol, sendirian.
            Hari dimana pertama kalinya Chanyeol bertemu Baekhyun, saat itu Baekhyun kesepian di awal musim panas. Dikucilkan dan tak dianggap terus menerus hingga pada akhirnya Chanyeol luluh. Baru sebulan mereka saling mengenal, Chanyeol dengan tekadnya menyatakan perasaannya kepada Baekhyun. Baekhyun menangis haru. Baekhyun menganggukan kepalanya dan memeluk Chanyeol erat, mengartikan bahwa Chanyeol tidak boleh pergi.
            Namun kenyataannya, sekarang justru berbanding terbalik dengan dulu. Baekhyun yang meninggalkan Chanyeol. Kandas sudah hubungan yang sudah dua tahun mereka jalani. Berawal dari musim panas, dan berakhir di saat musim telah berganti. Chanyeol merasa, ia tak pantas untuk Baekhyun. Hanya malah merendahkan harga dirinya, seorang gay. Baekhyun lebih pantas menjadi kekasih Taeyeon. Gadis cantik, pintar, terkenal, dan berasal dari keluarga terpandang. Taeyeon juga seorang yang sopan dan ramah kepada seseorang. Taeyeon sempurna. Baekhyun layak untuk menjadi pasangan hidupnya.
            Orangtua Chanyeol bukannya tak peduli, tetapi mereka tidak tinggal di Korea. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan hanya mengirim uang dengan jumlah banyak sesekali. Begitu juga dengan kakaknya, Park Yura. Gadis ini melanjutkan pendidikannya di Jerman, mengambil jurusan kedokteran.
            Hari ini, Chanyeol memutuskan pergi ke sekolah. Menaiki bus umum di hari yang masih terlampau pagi. Terlalu malas mengendarai motor atau mobilnya. Supir Chanyeol sedang izin dikarenakan istrinya meninggal kemarin. Maid? Chanyeol tak sebodoh itu, maid mengendarai mobilnya? Tidak akan. Ia masih sayang mobilnya.
            Sampai di kelas, ia melihat Baekhyun duduk sendirian. Ia berlagak seolah tak ada seorangpun di kelas. “Chan” Baekhyun memanggilnya lirih. Chanyeol sedikit menoleh. “Ma–“ Ucapan Baekhyun terpotong oleh kehadiran Taeyeon. Chanyeol tersenyum sendu, miris sekali. Taeyeon tidak mendekati Baekhyun melainkan Chanyeol, “Maafkan aku. Baekhyun tidak bersalah atas perjodohan ini. Aku yang salah karena memaksa Baekhyun meninggalkanmu. Aku–“ dipotong Chanyeol, “Kalian terlihat cocok. Tidak perlu minta maaf padaku, Kau atau Baekhyun, tidak ada yang salah diantara kalian. Aku mendukung kalian. Jangan akhiri hubungan kalian. Aku senang jika kalian tetap bersama.”
            Baekhyun menitikan air mata. Menggigit bibirnya, berusaha tidak mengeluarkan isakan. Itu memalukan. “Terima kasih, Chanyeol-ah, terima kasih.” Baekhyun menghampiri Chanyeol dan memeluknya. Taeyeon pun menitikan air matanya. “Terima kasih, Chanyeol. Bagaimana caranya aku membalas kebaikanmu?”
“Jangan akhiri hubungan kalian sampai disini saja.” Ucap Chanyeol bijak.

END

Nah kan asli drabble :v cepetan komen ya, jangan jadi hantu di blog gua, gua merinding/?
eh tanya, cara ngepost di ffn gimana sih, gua bingung ._. newbie sih ._. cari noh author ChaDanger :v kalo gua udah bisa, terus ngepost ini ff, itu sama ceritanya, jangan asal tuduh ya ._.
K-POPERS CINTA DAMAIII :3
Cukup sudaaah tidak usah banyak bacotan lagi dari gua, salam sejahtera, salam pramuka/?

GUTBAAAAIIII :v

SEQUEL / END ? ._. 


Sabtu, 29 Maret 2014

Hide and Seek



HIDE and SEEK
Author : Carina Salma W.M.
Pair : HunHan
Genre : Horror, Fantasy
Ding dong, muneun ryeo reo da o.
Ding dong, hurry open the door.
Naega wat dan da.
I have come.
Sumeun ryeo hae do so young eobseo.
Even if you try to hide, its no use.
Ding dong, eo seoyeo reo da o.
Ding dong, hurry open the door.
Naega wat dan da.
I Have coming.
Do mang chi gi e ni mi neu jeo sseo.
Its already to late to run.
            Suara itu, lagi-lagi mengusik kehidupan Sehun.Ia yang awalnya tenang saja duduk di sofa, kini tengah meringkuk tak jelas di balik pintu masuk rumahnya.Ia tinggal sendirian.Semenjak kakaknya, Luhan meninggal dunia akibat bunuh diri.Entah, Sehun pun tak tahu mengapa Luhan melakukan hal.Luhan dinyatakan meninggal dunia setelah 2 jam ia di rawat di rumah sakit.Kata dokter, Luhan mengalami depresi.Dan lagi, Sehun tak tahu apa yang membuat kakaknya depresi.Setahu Sehun, Luhan berpacaran dengan kawan SMP-nya, Kim Jong In.Dan, setahunya, hubungan Jongin dan Luhan baik-baik saja.
“Sehun-ah…”
            Panggil seseorang di balik pintu tempat Sehun meringkuk lemas.Sehun membelakakkan matanya.Itu suara…
“Lu.., Luhannie hyung…, hiks…”
            Sehun menggumam, memanggil nama kakak kesayangannya.Menangis dan menangis, Sehun bangkit dari tidurnya, berjalan mengendap-endap meninggalkan ruang tamu dan bersembunyi, berharap kakaknya tak menemukannya.
Knock, knock, knock
            Terdengar suara pintu diketuk, ya, oleh Luhan. ‘mayat’ lelaki berparas manis itu mengetuk pintu.Beberapa kali ia lakukan itu.Tak ada respon, pintu masuk yang terkunci dari dalam itu dengan mudahnya dibuka Luhan.Luhan segera masuk dan menoleh ke seluruh penjuru ruang yang dapat ia jangkau dengan mata rusanya – yang berwarna hitam, dan beriris putih – yang sangat menyeramkan.
“Sehunnie bogoshiposeo…, ayo bermain…”
            Luhan lagi lagi berbicara.Suaranya lembut, dan lebih terkesan…,  menyedihkan.Luhan tersenyum menyeringai dan mengambil langkah demi langkah.Sehun tak menyadari ia meninggalkan jejak – tak kasat mata – yang terlihat oleh Luhan.
“Hunnie-ah, kau ternyata tahu yang kumau ne?Kau selalu menyenangkan hatiku.Senyum tulusmu, sikap polosmu, tubuh atletismu.., hanya milikku seorang, arra?Jangan menghindar dariku, sayang.Sebentar lagi, kau akan menyusulku, kita bisa bermain lagi seperti dulu Hunnie, tunggu ajal menjemputmu, ayo bermain Hide and Seek..”
            Sementara Sehun, ia mencari tempat bersembunyi yang menurutnya paling aman.Luhan mengira, adiknya ini mengajaknya bermain, seperti hal yang biasanya mereka lakukan.Bermain petak umpet.Tapi, kali ini Luhan menyebutnya..
Hide and Seek.
            Apa hide and seek itu?Bacalah artikel-artikel mengenai hide and seek.Permainan ini tak jauh beda dengan petak umpet.Tetapi, permainan ini biasanya dilakukan single.Dan, mungkin bermain dengan boneka mistis, atau hantu.Dan permainan ini menyangkut..
Nyawa.
            Sehun berlari menuju kamarnya.Mencari-cari tempat persembunyian teraman – menurutnya – ia sangat takut bertemu kakaknya.Hey, kakaknya sudah meninggal, ingat?Dan juga, mengingat Sehun adalah orang yang penakut, dan mudah menangis, itu hal yang menegangkan, benar?
Chang mun sae ro bo neun.
Looking through the window.
Neowa nu mi ma ju chyeo sseo.
Our Eyes meet.
Geo be jilin du nun.
Two eyes frozen in fear.
Ga gga isseo bogoshipo.
I want to see up close.
            Sehun membungkam mulutnya dengan tangannya.Ia mendengar lagu itu lagi.Dan, entah kekuatan dari mana, Sehun melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya bagian dalam.Dan benar saja, Luhan sudah di depan pintu kamar Sehun – yang dulunya kamar mereka berdua –.Mata mereka bertemu.Sehun dengan susah payah menelan saliva-nya.
“I got you my little brother…”
            Sehun mulai berkeringat.Ia tegang betul setelah kedatangan Luhan.Ia mencoba sekuat tenaga menahan pintu itu.Namun, sepertinya usaha Sehun sia-sia saja.
“Kau kan tahu aku hantu, Hunnie.Hihihi.., ayo kita tidur Hunnie.Ini sudah malam, apa kau tidak merindukan pelukanku?”
BRUK.
            Sehun terduduk di lantai.Tubuhnya terkulai lemas.Ia menangis.Menangisnya menjadi-jadi ketika Luhan pun ikut menangis.Tidak, buka air mata.Melainkan darah.Luhan pun duduk mensejajarkan posisinya dengan Sehun.Luhan meraih dagu Sehun, lalu dikecupnya bibir Sehun, hanya sebentar.
“Hunnie, say goodbye to this world..,hihi..”
SRAAAK!
“Akh!hiks…”Sebuah cutter dengan indahnya membuat ukiran di leher Sehun.
SRAAK!
“Appo hyung…, hiks.., Hannie hyung.., hiks.., kau jahat!”Lagi, dan kini Luhan menjilat darah segar Sehun yang mengalir di leher Sehun, tanpa rasa jijik.
“Ssshh.., hyung.Hentikan..”
“Hunnie, welcome to my world”
JLEB!SREK!DUAGH!
            Luhan menusuk perut Sehun, menjambak rambut Sehun, dan memukul Sehun.Ia juga mencium paksa bibir Sehun yang kini mengeluarkan banyak darah, yang bercampur saliva-nya.
Hingga akhirnya, pengelihatan Sehun, gelap.
“Yeah, Hannie menang permainan hide and seek-nya Hunnie.., kita bernyanyi lagu hide and seek bersama ya nanti, saranghae Hunnie.., jaljayo, chu~”
            Sehun bangkit dari tidurnya.Ia merasa asing dengan tempat ia tidur sekarang.Hanya saja, nyanyian itu, terdengar lagi.Ingin rasanya Sehun berlari mencoba pergi dari suara itu, namun apa daya, ia tak mampu menyeimbangkan tubuhnya.Berdiri, berjalan lemas, terjatuh, dan seterusnya pun begitu.
“Hunnie sudah bangun?Hunnie tak akan bisa pergi.Ini rumahku, Hunnie.Dan sekarang rumah ini milik kita berdua.Kita bermain lagi, ne?Aku tak akan menyakitimu lagi, aku janji.., please..”
Suara ini..
“Luhannie hyung?”
“Eum, welcome to my, eh, our world Hunnie…”
END
Uaaaa jangan bunuh akuuu!!aku tau ini gajee!!PLIS YA UNTUK KOMENTAR, KRITIK, SARAN.ITU MEMBANTUKU!!! 
Tau tau aja gitu kalo FF ini mirip sama FF lain atau gimana, aku bakal kasih sequel yang berbeda (?)