Sudah dua minggu Luhan tak
memberi kabar selama berkuliah di Jepang, dan tentu itu membuat Sehun menjadi
khawatir. Tak ada satupun pesan maupun panggilan yang Luhan jawab dan itu
menambah rasa kekhawatiran Sehun. Selain itu Sehun juga sudah kelewat rindu
dengan teman terbaiknya waktu SMA.
Berkuliah
di tempat yang sama sekali takn ada dekat-dekatnya membuatnya sulit –bahkan
sangat sulit– untuk menghubunginya. Sehun tak kuat lagi sungguh, Jongin sama
sekali tidak membantunya. Laki-laki berkulit gelap itu selalu saja memberikan
saran tolol dan konyol untuk dilakukan. Oh, bahkan jika Sehun di bayar
bermilyar-milyar won, ia tetap tak akan mengikuti saran kawan kurang warasnya,
terima kasih.
Hari
ini Sehun sedang berguling-guling tidak jelas di kasur sambil memeluk sebuah
guling erat-erat, sesekali ia ciumi. Lalu tiba-tiba Sehun terduduk di tepi
kasur sambil tersenyum bodoh sesekali terkekeh. Astaga, Sehun sudah agak gila.
Sejujurnya,
Sehun bertingkah tidak jelas seperti itu karena Lu –tidak, maksudnya karena ada
sangkut pautnya dengan Luhan. Baekhyun berkata bahwa sekitar dua atau tiga hari
lagi Luhan akan kembali ke Korea dan sementara menetap di asrama yang
ditinggali Sehun sampai masa berlibur natal usai. Dan tentu saja Sehun percaya
akan hal itu, Baekhyun adalah kepercayaannya sejak duduk di kelas satu SMA.
Namun,
kening Sehun mengkerut setelah itu. Mengapa Luhan tak langsung memberitahukan
hal ini kepadanya? Mengapa harus melewati Baekhyun sementara semua pesan yang
Sehun kirim tidak ada satupun yang terbaca oleh Luhan?
Sesungguhnya
hal ini sangat menyebalkan, namun Sehun tetap senang mengetahui teman paling
dekat –sampai-sampai layak dikatakan teman tapi mesra– Sehun akan berkunjung
dan menginap di tempatnya tinggal saat ini.
...
Siang
ini lagi-lagi Sehun meringkuk di kamar sendirian. Ia akan menyiapkan semuanya
demi Luhan. Bahkan Sehun mengusir Jongin kemarin –uh jahatnya, dan menyuruh
Jongin pindah ke kamar Kyungsoo –yang kebetulan sekali Kyungsoo sendirian, dan
dengan malas-malas (dalam hati senang) Jongin mengiyakan.
Ia
terus menggenggam ponselnya erat sejak subuh tadi, bahkan gilanya lagi, mandi
pun Sehun bawa. Jaga-jaga siapa tahu Luhan menelpon, kan? Haha gila.
Dan Luhan baru menelpon saat jam
makan siang menjelang.
Sehun
melompat kegirangan mengetahui fakta bahwa Luhan masih mengingatnya dan itu
mebuat Sehun jejingkrakan di kasur sendirian.
“Halo?”
“Hun?”
“Astaga, astaga, astaga! Lu, oh,
astaga!”
“Kedengarannya kau senang sekali, Hun? Ada apa, huh?”
“Tentu saja, Kau kan menelponku!
Kenapa kau tak membaca pesanku, Lu?”
“Uh, maafkan aku, aku tidak sempat membacanya. Aku si–”
“Luhan?”
“Maaf, Hun, aku sibuk. Mungkin aku akan kesana beberapa hari lagi.
Baekhyun sudah memberitahumu kan?”
“Eung, dia sudah memberitahuku.
Dia mengatakan bahwa dua hari lagi kau akan kesini.”
“Uh, maaf, mungkin kutunda. Bye~”
Sehun
dibuat kesal akan hal itu. Menyebalkan sekali Luhan sekarang. Tak sempat
membaca pesannya tetapi sempat-sempatnya menelpon Baekhyun, dasar.
“Uh, ini kan ulang tahunku,
kenapa jadi sial begini?”
Ting tong.
Sial
memang hari ini bagi Sehun. Sedang sebal begini, sekarang ada tamu saat ia
sedang sendiri di asrama menyeramkan macam ini?
Ting tong.
Sehun bersumpah akan langsung
menendang tamu itu sampai Kanada –tempat Yifan, sepupu Luhan, tinggal.
“Ish, sebenta– Lu?”
“Hai, darling~ merindukanku?”
Seseorang tolong Sehun, ia
mimisan!
a/n : Kangen hunhan, haha. Oh, ff chapter itu…secepatnya update,
lalala~ jangan harap dapet sesuatu yang perting dari ff ini karena ini emang
gak penting~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar