Selasa, 09 Desember 2014

Hi!



                Sudah dua minggu Luhan tak memberi kabar selama berkuliah di Jepang, dan tentu itu membuat Sehun menjadi khawatir. Tak ada satupun pesan maupun panggilan yang Luhan jawab dan itu menambah rasa kekhawatiran Sehun. Selain itu Sehun juga sudah kelewat rindu dengan teman terbaiknya waktu SMA.
                Berkuliah di tempat yang sama sekali takn ada dekat-dekatnya membuatnya sulit –bahkan sangat sulit– untuk menghubunginya. Sehun tak kuat lagi sungguh, Jongin sama sekali tidak membantunya. Laki-laki berkulit gelap itu selalu saja memberikan saran tolol dan konyol untuk dilakukan. Oh, bahkan jika Sehun di bayar bermilyar-milyar won, ia tetap tak akan mengikuti saran kawan kurang warasnya, terima kasih.
                Hari ini Sehun sedang berguling-guling tidak jelas di kasur sambil memeluk sebuah guling erat-erat, sesekali ia ciumi. Lalu tiba-tiba Sehun terduduk di tepi kasur sambil tersenyum bodoh sesekali terkekeh. Astaga, Sehun sudah agak gila.
                Sejujurnya, Sehun bertingkah tidak jelas seperti itu karena Lu –tidak, maksudnya karena ada sangkut pautnya dengan Luhan. Baekhyun berkata bahwa sekitar dua atau tiga hari lagi Luhan akan kembali ke Korea dan sementara menetap di asrama yang ditinggali Sehun sampai masa berlibur natal usai. Dan tentu saja Sehun percaya akan hal itu, Baekhyun adalah kepercayaannya sejak duduk di kelas satu SMA.
                Namun, kening Sehun mengkerut setelah itu. Mengapa Luhan tak langsung memberitahukan hal ini kepadanya? Mengapa harus melewati Baekhyun sementara semua pesan yang Sehun kirim tidak ada satupun yang terbaca oleh Luhan?
                Sesungguhnya hal ini sangat menyebalkan, namun Sehun tetap senang mengetahui teman paling dekat –sampai-sampai layak dikatakan teman tapi mesra– Sehun akan berkunjung dan menginap di tempatnya tinggal saat ini.
...
                Siang ini lagi-lagi Sehun meringkuk di kamar sendirian. Ia akan menyiapkan semuanya demi Luhan. Bahkan Sehun mengusir Jongin kemarin –uh jahatnya, dan menyuruh Jongin pindah ke kamar Kyungsoo –yang kebetulan sekali Kyungsoo sendirian, dan dengan malas-malas (dalam hati senang) Jongin mengiyakan.
                Ia terus menggenggam ponselnya erat sejak subuh tadi, bahkan gilanya lagi, mandi pun Sehun bawa. Jaga-jaga siapa tahu Luhan menelpon, kan? Haha gila.
Dan Luhan baru menelpon saat jam makan siang menjelang.
                Sehun melompat kegirangan mengetahui fakta bahwa Luhan masih mengingatnya dan itu mebuat Sehun jejingkrakan di kasur sendirian.
“Halo?”
Hun?
“Astaga, astaga, astaga! Lu, oh, astaga!”
Kedengarannya kau senang sekali, Hun? Ada apa, huh?
“Tentu saja, Kau kan menelponku! Kenapa kau tak membaca pesanku, Lu?”
Uh, maafkan aku, aku tidak sempat membacanya. Aku si–
“Luhan?”
Maaf, Hun, aku sibuk. Mungkin aku akan kesana beberapa hari lagi. Baekhyun sudah memberitahumu kan?”
“Eung, dia sudah memberitahuku. Dia mengatakan bahwa dua hari lagi kau akan kesini.”
Uh, maaf, mungkin kutunda. Bye~”
                Sehun dibuat kesal akan hal itu. Menyebalkan sekali Luhan sekarang. Tak sempat membaca pesannya tetapi sempat-sempatnya menelpon Baekhyun, dasar.
“Uh, ini kan ulang tahunku, kenapa jadi sial begini?”
Ting tong.
                Sial memang hari ini bagi Sehun. Sedang sebal begini, sekarang ada tamu saat ia sedang sendiri di asrama menyeramkan macam ini?
Ting tong.
Sehun bersumpah akan langsung menendang tamu itu sampai Kanada –tempat Yifan, sepupu Luhan, tinggal.
“Ish, sebenta– Lu?”
“Hai, darling~ merindukanku?”
Seseorang tolong Sehun, ia mimisan!

a/n : Kangen hunhan, haha. Oh, ff chapter itu…secepatnya update, lalala~ jangan harap dapet sesuatu yang perting dari ff ini karena ini emang gak penting~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar