Rabu, 10 Desember 2014

Sehun



Dulu, Luhan kira Sehun adalah orang terjahat yang pernah ia temui seumur  hidupnya. Tetapi, pada kenyataannya Sehun-lah orang yang paling baik untuknya.
                Dulu, Luhan kira Sehun adalah orang yang paling tidak dapat mengerti dirinya. Tetapi, pada kenyataannya Sehun-lah orang yang paling pengertian baginya.
                Dulu, Luhan kira Sehun adalah berandalan sekolah yang senang menindas semua orang tanpa ampun. Tetapi, pada kenyataannya Sehun-lah yang melindunginya dari penindasan di sekolah.
                Dulu, Luhan selalu menganggap Sehun sebagai hal yang negative dan harus dihindari. Tetapi, pada kenyataannya Sehun-lah yang paling ia butuhkan.

..

                Kini Luhan menyadari, bahwa dialah orang jahat untuk Sehun. Bahkan kejam. Ia memandang Sehun sebelah mata, ia memandang Sehun orang yang paling tidak berguna untuknya. Tetapi sesungguhnya dialah yang tidak berguna, ia mengakuinya.

                Sehun, ia adalah orang terbodoh yang pernah Luhan temui. Sehun bodoh karena melindungi Luhan, karena mengerti Luhan, karena selalu ada disaat ia butuh, karena menyayangi Luhan dengan tulus. Melakukan semua hal itu untuk orang yang telah memandangnya sebelah mata.

                Dulu, sekitar dua tahun lalu, Luhan pertama kalinya mengucapkan, ‘hentikan’ tetapi Sehun tidak akan pernah berhenti untuk melakukan hal-hal yang dapat melindungi Luhan, apapun itu. Dan rasanya Luhan ingin menangis karena hal itu.

                Hingga kemarin, Sehun menghembuskan nafas terakhirnya, Sehun tersenyum. Sebelum itu, ia menuliskan sebuah note sederhana yang bagi Luhan sangat penting. Tak ada yang menyentuh dari kata-kata note itu. Namun, mengingat Sehun-lah yang memberikannya pada Luhan, membuat Luhan menangis seharian. Note itu berisi tentang apa-apa yang harus Luhan lakukan di jam-jam yang ditulis. Jadwal untuknya, ia sangat tahu kalau Luhan selalu tidak menjadwal kapan ia harus melakukan ini atau itu.

                Sehun juga masih sempat mengatakan, “Saranghae, Lu. Selamanya akan seperti itu. Tidak apa-apa kau membalas cintaku dengan ya atau tidak disaat aku sudah tidak ada. Aku masih dapat mendengarkanmu. Tidak apa-apa. Nanti, jika aku sudah dimakamkan, kau boleh bercerita sesukamu, yakinlah aku akan tetap mendengarmu.” Sehingga Luhan kembali menangis.

Pantaskah ia menyesal sekarang? Pantaskah ia dicintai orang sebaik Sehun?

END –dengan tidak jelasnya.

a/n : maaf ff ini ga jelas. oh, ff yang kemarin barusan di publish itu, maaf banyak banget typo. masih amatiran ya begini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar