Dulu, Luhan kira Sehun adalah orang terjahat yang pernah ia temui
seumur hidupnya. Tetapi, pada
kenyataannya Sehun-lah orang yang paling baik untuknya.
Dulu, Luhan kira
Sehun adalah orang yang paling tidak dapat mengerti dirinya. Tetapi, pada kenyataannya
Sehun-lah orang yang paling pengertian baginya.
Dulu, Luhan kira
Sehun adalah berandalan sekolah yang senang menindas semua orang tanpa ampun.
Tetapi, pada kenyataannya Sehun-lah yang melindunginya dari penindasan di
sekolah.
Dulu, Luhan selalu
menganggap Sehun sebagai hal yang negative dan harus dihindari. Tetapi, pada
kenyataannya Sehun-lah yang paling ia butuhkan.
..
Kini
Luhan menyadari, bahwa dialah orang jahat untuk Sehun. Bahkan kejam. Ia
memandang Sehun sebelah mata, ia memandang Sehun orang yang paling tidak
berguna untuknya. Tetapi sesungguhnya dialah yang tidak berguna, ia
mengakuinya.
Sehun,
ia adalah orang terbodoh yang pernah Luhan temui. Sehun bodoh karena melindungi
Luhan, karena mengerti Luhan, karena selalu ada disaat ia butuh, karena
menyayangi Luhan dengan tulus. Melakukan semua hal itu untuk orang yang telah
memandangnya sebelah mata.
Dulu,
sekitar dua tahun lalu, Luhan pertama kalinya mengucapkan, ‘hentikan’ tetapi Sehun tidak akan pernah berhenti untuk melakukan
hal-hal yang dapat melindungi Luhan, apapun itu. Dan rasanya Luhan ingin
menangis karena hal itu.
Hingga
kemarin, Sehun menghembuskan nafas terakhirnya, Sehun tersenyum. Sebelum itu,
ia menuliskan sebuah note sederhana yang bagi Luhan sangat penting. Tak ada yang
menyentuh dari kata-kata note itu. Namun, mengingat Sehun-lah yang
memberikannya pada Luhan, membuat Luhan menangis seharian. Note itu berisi
tentang apa-apa yang harus Luhan lakukan di jam-jam yang ditulis. Jadwal untuknya, ia sangat tahu kalau Luhan selalu tidak menjadwal kapan ia
harus melakukan ini atau itu.
Sehun
juga masih sempat mengatakan, “Saranghae,
Lu. Selamanya akan seperti itu. Tidak apa-apa kau membalas cintaku dengan ya
atau tidak disaat aku sudah tidak ada. Aku masih dapat mendengarkanmu. Tidak
apa-apa. Nanti, jika aku sudah dimakamkan, kau boleh bercerita sesukamu,
yakinlah aku akan tetap mendengarmu.” Sehingga Luhan kembali menangis.
Pantaskah ia menyesal sekarang?
Pantaskah ia dicintai orang sebaik Sehun?
END –dengan tidak
jelasnya.
a/n : maaf ff ini ga jelas. oh, ff yang kemarin barusan di publish itu, maaf banyak banget typo. masih amatiran ya begini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar